Perilaku Konsumen Minggu 1

Meilina Pudjiani
Departemen Biokimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB
Kuliah Perilaku Konsumen IKK233 Sep 2014-Jan 2015
Department of Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology Bogor Agricultural University IPB

Dosen:
Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSc
Dr Ir Lilik Noor Yuliati, MFSA
Dr. Ir. Megawati simanjuntak, MS
Ir. MD Djamaluddin, MSc
Ir. Retnaningsih, MS

Text Book:
Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Edisi 2 Cetakan 1. Jakarta: PT Ghalia Indonesia

COVER-PERILAKU-KONSUMEN-2011

Catatan Kuliah Pertama
Saya Meilina mahasiswa departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Pada hari kamis tanggal 4 September 2014 merupakan kuliah perdana Perilaku Konsumen, saya mengikuti mata kuliah ini sebagai supporting course. Mata kuliah ini merupakan salah satu mata kuliah yang banyak diminati oleh mahasiswa yang mengambil supporting course (SC) atau mata kuliah penunjang mayor. Kelas mata kuliah ini bertempat di Fakultas Pertanian dengan ruang kelas RK. 8 AGR 307. Kelas perilkon kamis siang ini disampaikan oleh Dosen yang sangat ahli di bidang konsumen, yaitu Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan MSc. Beliau juga menulis buku dengan judul Perilaku Konsumen yang dijadikan buku pegangan untuk mahasiswanya.
Saat dimulainya perkuliahan Dosen menyuruh mahasiswa di kelas untuk menyebutkan 1-2 kata arti dari konsumen dan tidak boleh ada kata yang sama dari setiap orang, sontak saja semua kaget mendengar hal itu. Bayangkan di kelas tersebut terdapat 80 orang dengan kemungkinan peluang 1:80, saya pun berpikir keras untuk mencari arti kata dari konsumen. Disaat lima orang sebelum saya yang menyebutkan arti konsumen adalah trend, tetiba Pak Ujang berbicara “Nah, sekarang coba cari trend apa saja yang sedang terjadi”. Saya pun terkejut lalu mulai berpikir dan akhirnya tiba giliran saya yang menyebutkan trend saat ini adalah TV Parabola.
Setelah sampai mahasiswa paling belakang menyebutkan trend undang-undang pangan, maka kuliah pun dimulai. Kuliah perdana dimulai dengan bab pendahuluan. Pada bab pendahuluan ini dibagi menjadi beberapa subbab yaitu definisi perilaku konsumen menurut para ahli, jenis-jenis konsumen yang terdiri dari konsumen individu dan konsumen organisai, perspektif riset perilaku konsumen, dimensi perilaku konsumen, yang harus mempelajari perilaku konsumen, dan faktor yang mempengaruhi proses keputusan konsumen. Selain faktor perspektif, faktor psikologis dan faktor lingkungan juga mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli barang sehingga terdapat kepuasan tersendiri.

Penentuan Protein Metode Bradford

Pendahuluan

Protein adalah komponen yang terdiri atas atom karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan beberapa ada yang mengandung sulfur. Tersusun dari serangkaian asam amino dengan berat molekul yang relatif besar, yaitu berkisar 8.000 sampai 10.000. Protein yang tersusun dari hanya asam amino disebut protein sederhana. Adapun yang mengandung bahan selain asam amino, seperti turunan vitamin, lemak, dan karbohidrat yang disebut dengan protein kompleks. Secara biokimiawi, 20 persen dari susunan tubuh orang dewasa terdiri dari protein. Kualitas protein ditentukan oleh jumlah dan jenis asam aminonya (Devi 2010).

Terdapat beberapa metode untuk menentukan kadar protein dalam suatu sampel yaitu uji Biuret, metode Lowry, dan metode Bradford. Uji biuret digunakan untuk mengetahui adanya ikatan peptida dalam protein. Warna violet akan terbentuk pada larutan CuSO4 alkalis (reagen biuret) dengan 2 atau lebih ikatan peptide ( CO-NH) yang saling berikat. Metode lain adalah metode Lowry, metode ini berdasarkan prinsip reaksi antara Cu2+ dengan ikatan peptide dan reduksi asam fosfomolibdat dan asam fosfotungstat oleh tirosin dan triptofan (merupakan residu protein) akan menghasilkan warna biru (Anwar & Sulaeman 1992).

Metode yang terakhir adalah metode Bradford, metode ini didasarkan pada pengikatan secara langsung zat warna Coomassine Brilliant Blue G250 (CBBG) oleh protein yang mengandung residu asam amino dengan rantai samping aromatik (Tyrosine, Tryptophan dan Phenylalanine) atau bersifat basa (Arginine, Histidine dan Leucine). Reagen CBBG bebas berwarna merah-kecoklatan (λmax 465 nm), sedangkan dalam suasana asam reagen CBBG akan berada dalam bentuk anion yang akan mengikat protein membentuk warna biru (λmax 595 nm). Jumlah CBBG yang terikat pada protein proporsional dengan muatan positif yang ditemukan pada protein (Olson 2007).

Metode Bradford memerlukan pereaksi NaCl dan Bovine Serum Albumine (BSA). Masing-masing pereaksi memiliki spesifikasi fungsi dalam menetukan kadar protein bahan. NaCl adalah sejenis garam yang berfungsi untuk membantu pengikatan zat warna CBBG oleh protein. BSA adalah larutan standar yang mengandung protein (Dennison 2002).

 

Tujuan

Tujuan percobaan yang dilakukan adalah menentukan kadar protein dalam suatu sampel dengan metode spektrofotometri menggunakan kurva standar.

 

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penentuan kadar protein adalah tabung reaksi, gelas piala 250 ml, pipet mohr 1 ml, dan spektrofotometer.

Bahan yang digunakan untuk percobaan penentuan kadar protein dengan metode Bradford adalah larutan standar Bovine Serum Albumin (BSA) 0.1 mg/ml, reagen bradford, larutan NaCl, dan parafilm.

 

Prosedur Percobaan

Pembuatan kurva standar. Untuk mengetahui cara penentuan kadar protein dengan pembuatan kurva standar, perlu disiapkan 100 μl larutan standar BSA, 100 μl larutan NaCl, reagen Bradford 5 ml.  Bahan yang digunakan hanya setengah resep. Sebanyak 0.005 ml larutan BSA dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan larutan NaCl sebanyak 0.045 ml. Setelah itu ditambahkan 2.5 ml reagen Bradford, lalu tabung ditutup dengan menggunakan parafilm dan dikocok dengan cara membalikkan tabung perlahan-lahan dan dibiarkan selama 10 menit. Untuk tabung blanko sebanyak 0.05 ml larutan NaCl ditambahkan lalu ditambahkan 2.5 ml reagen Bradford. Setelah itu baca absorbans pada λ= 595 nm untuk setiap tabung dari mulai blanko hingga tabung 6. Buatlah kurva standar antara konsentrasi protein dengan absorbannya.

Penentuan konsentrasi protein. Penentuan konsentrasi protein diawali dengan dimasukkannya 100 μl larutan sampel ke dalam tabung 2, lalu ditambahkan 5 ml reagen Bradford. Langkah selanjutnya sama dengan pembuatan kurva standar. Setelah itu baca absorban pada pada λ= 595 nm untuk setiap tabung. Tentukan konsentrasi sampel dengan menarik garis absorban rata-rata pada kurva standar yang telah dibuat, pada sumbu x merupakan konsentrasi protein BSA dan sumbu y merupakan nilai absorbansinya. Konsentrasi sampel dapat ditentukan dengan persamaan Y= a+bx.

 

Hasil Percobaan

Tabel 1 Data hasil penentuan kurva standar protein pada λ= 595nm

Tabung ke-

Konsentrasi standar protein

(

Absorbansi

1

2

3

4

5

6

0

0.1

0.2

0.3

0.5

1.0

0

0.229

0.188

0.144

0.119

0.135

Tabel 2 Data hasil pengukuran konsentrasi sampel

Sampel

Absorbansi

Konsentrasi

blanko

1

2

0

0.211

0.255

0

4.1465

4.8535

 

 

 

Pembahasan

Metode Bradford adalah suatu uji untuk mengukur konsentrasi protein total dengan secara kolorimetri dalam suatu larutan.    Prinsip metode Bradford didasarkan pada pengikatan secara langsung zat warna Coomassine Brilliant Blue G250 (CBBG) oleh protein yang mengandung residu asam amino dengan rantai samping aromatik (Tyrosine, Tryptophan danPhenylalanine) atau bersifat basa (Arginine, Histidine dan Leucine). Zat warna tersebut akan mengikat protein dan mengubah warna pada larutan yang mengandung protein tersebut dari warna kemerahan menjadi warna kebiruan. Metode ini hanya digunakan untuk mendeteksi protein yang memiliki konsentrasi hingga 20 µL. (Bradford 1976).

Ikatan yang terjadi antara zat warna Coomassie Blue G-250 dan protein dapat terjadi dikarenakan adanya gaya van der walls antara keduanya. Gaya van der walls dapat terjadi karena adanya bagian protein yang bersifat hidrofobik mengikat bagian dari zat warna Coomassie Blue G-250 (penyusun reagen Bradford) yang bersifat non polar sehingga mengakibatkan zat warna tersebut melepaskan elektronnya ke bagian hidrofobik protein. Selain itu, antara zat warna dan protein juga terdapat kekuatan ionik yang memperkuat  ikatan antara keduanya dan membuat zat warna tersebut menjadi stabil. Hal ini lah yang  digunakan pada metode Bradford untuk menentukan kadar protein di dalam suatu larutan. Kandungan protein yang berikatan dengan zat warna tersebut dapat diukur dengan menggunakan instrument spectronic 20D untuk mengukur nilai absorbansnya pada panjang gelombang kisaran 465-595 nm. Selanjutnya, nilai absorbans tersebut dapat digunakan untuk membuat kurva standar yang menjadi dasar penentuan konsentrasi dan kadar protein di dalam larutan (Bradford 1976).

Metode Bradford memerlukan pereaksi NaCl dan Bovine Serum Albumine (BSA). NaCl adalah sejenis garam yang berfungsi untuk membantu pengikatan zat warna CBBG oleh protein serta sebagai katalis agar reaksi cepat terjadi. BSA adalah larutan standar yang mengandung protein (Dennison 2002). Menurut Khopkar (2007) jika NaCl yang ditambahkan ke dalam larutan Bovine Serum Albumin (BSA) semakin banyak maka protein yang larut akan semakin banyak pula. Hal ini mengakibatkan pengompleksan antara protein dan zat warna Coomassie Brilliant Blue G-250 dalam reagen Bradford akan semakin sedikit terjadi. Jadi, jika penambahan NaCl semakin banyak maka nilai absorbansi larutan tersebut semakin kecil.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data tabung ke-2 hingga tabung ke-5 semakin menurun nilai absorbansinya tetapi pada data tabung ke-6 nilai absorbansinya meningkat kembali. Tabung ke-1 merupakan blanko dengan nilai absorban adalah 0, dari tabung ke-2 hingga tabung ke-6 nilai absorbannya berturut-turut yaitu 0.229, 0.188, 0.144, 0.119, dan 0.135. Data hasil percobaan tidak sesuai dengan teori yang ada. Teori tersebut mengatakan bahwa jika NaCl yang ditambahkan pada larutan Bovine Serum Albumin (BSA) semakin banyak maka nilai absorbansinya akan semakin sedikit (kecil). Ketidaksesuaian tersebut dikarenakan adanya kesalahan saat melakukan percobaan seperti saat mengocok larutan, praktikan kurang mengocok sehingga larutan kurang homogen dan mengakibatkan nilai absorbansinya menjadi menurun.

Persamaan garis yang diperoleh dari kurva standar yang menghubungkan antara nilai absorbansi dengan konsentrasi larutan Bovine Serum Albumin (BSA)   adalah Y= 0.1289 + 0.0198x dengan % R sebesar 9.211 %. Ketepatan data dapat dilihat dari nilai % r2 yang diperoleh. Ketepatan data sangat kecil, hal tersebut dapat terjadi karena adanya kesalahan selama percobaan. Kesalahan tersebut seperti pada saat menambahkan larutan BSA dan larutan NaCl serta reagen Bradford terjadi tumpahnya larutan campuran tersebut saat mengocok agar larutan homogen dapat mengurangi jumlah protein di dalam larutan serta kesalahan pengkalibrasian spektrofotometer.

Keuntungan dari metode Bradford adalah pereaksi yang digunakan sangat sederhana serta mudah disiapkan. Selain itu kompleks warna biru pada larutan yang diberi reagen Bradford sangat cepat terbentuk dan bersifat stabil. Kestabilan warna biru coomassieini karena adanya inteaksi antara lapisan hidrofobik dari protein dengan bentuk anion dari zat warna Coomassie Brilliant Blue G-250 yang menstabilkan bentuk anion tersebut (adanya gaya van der walls). Kelemahan utama metode Bradford adalah reagen khususnya dapat mengakibatkan perbedaan respon tes untuk  jenis protein yang berbeda. Hal itu membuat kita harus teliti dalam memilih protein yang akan di ujikan. Selain itu kelemahan lainnya ialah kurangnya sensitivitas terhadap sampel yang hanya memiliki sedikit kandungan protein (Bradford 1976).

Simpulan

Metode Bradford ialah metode yang efektif digunakan dalam penentuan kadar protein pada larutan standar Bovine Serum Albumin (BSA) dengan zat warna Coomassie Brilliant Blue G-250. Metode Bradford ini mengandalkan kurva standar hubungan antara nilai absorbansi larutan dengan konsentrasi protein untuk menentukan konsentrasi larutan sampel dalam mg/mL. Metode Bradford pada percobaan memiliki persamaan garis  Y=0.1289 + 0.0198x  dengan % R sebesar 9,211 %. Semakin banyak NaCl yang ditambahkan ke dalam larutan Bovine Serum Albumin (BSA) maka semakin kecil nilai absorbansi larutannya.

 

Daftar Pustaka

Anwar, F dan A. Sulaeman. 1992. Penetapan Zat Gizi Dalam Makanan. Bogor : IPB Press.

Bradford, MM. 1976. A rapid and sensitive method for the quantitation of microgram quantities of protein utilizing the principle of protein-dye binding. Analitical Biochemistry 72 , 248-254.

Dennison. 2002. A Guide to Protein Isolation. New York: Kluwer Academic Publishers.

Devi Nirmala. 2010. Nutrition and Food Gizi Untuk Keluarga. Jakarta : Kompas.

Khopkar, S. 2007. Konsep Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.

Lowry, O.H., Rosenbrough, N.J., Farr, A.L. & Randall, R.J. 1951. Protein Measurement with the Folin Phenol Reagent. Jurnal Biol. Chem, 193: 265-275.

Peran Teknologi Dalam Bisnis Roti

Peran Teknologi Informasi dalam Usaha Roti

 

Pada era teknologi informasi saat ini, kegiatan bisnis tidak terlepas dari peran teknologi informasi. Teknologi informasi tidak lagi menjadi suatu pendamping dalam suatu kegiatan bisnis, akan tetapi telah menjadi sarana andalan dalam memenangkan persaingan dalam industri, membantu organisasi mencapai visi dan misi mereka. Bagi suatu perusahaan ataupun pabrik mempunyai strategi saja tidak cukup untuk menghadapi persaingan dewasa ini. Untuk dapat bersaing, perusahaan perlu menyusun suatu strategi bisnis yang telah diperlengkapi dengan suatu IT strategic planning agar perusahaan tersebut memanfaatkan secara optimum fungsi teknologi sebagai sarana sistem informasi yang akurat, tepat waktu, dan efisien.

OLYMPUS DIGITAL CAMERABisnis di bidang kuliner memang tidak pernah ada ujungnya. Selama manusia tetap memiliki keinginan untuk makan makanan lezat, bisnis di bidang ini takkan pernah mati. Diantara berbagai jenis makanan yang bisa dijadikan sebagai inspirasi bisnis, yang paling mudah adalah bisnis produksi roti dan kue yang sering disebut dengan bakery. Roti adalah makanan konsumsi yang biasanya dijadikan pelengkap, disantap dalam keadaan santai atau pun saat berkumpul dan rasanya sangat enak dengan berbagai macam rasa. Usaha roti adalah usaha yang memproses tepung terigu menjadi roti yang siap dinikmati konsumen melalui proses fermentasi dan pemanggangan. Saat ini roti sudah banyak ragam bentuk dan rasanya. Variasi rasa, kebutuhan konsumen dan cara pemasaran yang semakin beragam membuat peluang usaha roti manis cukup diminati.

 Inovasi produk roti sangat perlu dilakukan selain promosi yang gencar dan tepat sasaran. Bila tidak melakukan inovasi produk roti, lambat laun usaha roti anda akan tergilas oleh kompetitor. Dalam dunia bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi dimanfaatkan untuk perdagangan secara elektronik atau dikenal sebagai E-Commerce. E-Commerce adalah perdagangan menggunakan jaringan komunikasi internet. Tak bisa kita pungkiri bila perkembangan teknologi khususnya internet, sekarang ini menjadi media pemasaran yang cukup efektif bagi para pelaku usaha. Bahkan saking besarnya peranan internet, banyak pengusaha yang mulai tertarik memasarkan berbagai macam produk maupun jasa mereka melalui pasar dunia maya. Promosi online dengan internet bisa dilakukan, karena semakin mudahnya dan murahnya biaya akses internet. Selain itu akses jejaring sosial seperti facebook, twitter, google, dan yahoo dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan produk roti. Toko online sangat cocok untuk dimanfaatkan sebagai sarana promosi bisnis roti. Selain faktor diatas sangatlah penting juga mesin roti berkualitas dengan harga terjangkau untuk meningkatkan kualitas produksi roti anda.

            Teknologi informasi memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, seperti mampu meringankan aktivitas bisnis serta menghasilkan informasi yang dapat dipercaya, relevan, tepat waktu, lengkap, dapat dipahami, dan teruji dalam rangka perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan manajemen. Sehingga perusahaan dapat tetap bertahan dalam era informasi serta mampu menghadapi persaingan pasar global. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi tersebut, hampir semua aktivitas organisasi saat ini telah dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi. Pemanfaatan Teknologi Informasi yang dapat dilakukan dalam menunjang kegiatan operasional bisnis produksi roti dan kue meliputi bidang-bidang sebagai berikut :

1. Sistem Informasi Akuntansi dan Keuangan

2. Sistem Informasi Properti

4. Sistem Informasi Pergudangan

5. Sistem Informasi SDM

6. Sistem Informasi Poliklinik

7. Aplikasi Audit Internal (Pengawasan SPI)

8. Sistem Persediaan ATK/Cetakan

9. Sistem Inventarisasi Peralatan Kantor

10. Sistem Electronic Data Interchange (EDI) untuk pengiriman dokumen

11. Website dan internet

Tujuan utama yang ingin dicapai melalui pemanfaatan teknologi dan sistem informasi adalah peningkatan kualitas produk dan layanan, mempercepat dan mengefektifkan proses bisnis perusahaan, dan meningkatkan efesiensi.

LUMBUNG ‘Lumpia Rebung’

Lumpia semarang adalah makanan semacam rollade yang berisi rebung, telur, dan daging ayam atau udang. Cita rasa lumpia semarang adalah perpaduan rasa antara Tionghoa dan Indonesia karena pertama kali dibuat oleh seorang keturunan Tionghoa yang menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Semarang, Jawa Tengah. Dewasa ini, terdapat enam jenis lumpia semarang dengan cita rasa yang berbeda. Pertama aliran Gang Lombok (Siem Swie Kiem), kedua aliran Jalan Pemuda (almarhum Siem Swie Hie), dan ketiga aliran Jalan Mataram (almarhumah Siem Hwa Nio). Ketiga aliran ini berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–Wasih dan yang terakhir adalah lumpia Jalan TanggaMus (Ny. Mechtildis Tyastresna Halim) lumpia nya bulat-bulat dan gurih. Di bawah ini merupakan resep lumpia udang rebung :

40 lbr kulit lumpia ukuran 12x 12 cm
100 gr rebung
200 gr udang kupas, haluskan
2 siung bawang putih, cincang halus
1/2 sdt gula pasir
1/2 sdt garam
1/2 sdt lada bubuk
1/4 sdm minyak wijen
2 sdt tepung sagu
1/2 btg daun bawang, iris halus
1 putih telur, untuk perekat
minyak goreng

Rebus rebung beberapa kali sampai hilang baunya, angkat dan tiriskan. Setelah dingin iris kasar.
Buat isi: campur udang, bawang putih, gula pasir, garam, lada, dan minyak wijen, aduk rata. Masukkan tepung sagu, uleni sampai rata, tambahkan daun bawang dan rebung, aduk rata.
Ambil selembar kulit lumpia, taruh 1 sdm adonan isi di 2/3 bagian kulit, tekuk sisi kiri dan kanan, gulung, rekatkan pinggirnya dengan putih telur, gulung
Panaskan minyak, goreng beberapa lumpia dengan api kecil, hingga kering kecokelatan. Sajikan dengan saus sambal.

th

Harga lumpia yang dijual para pedagang tersebut berbeda-beda. Kios lumpia Gang Lombok milik Siem Swie Kiem, misalnya, menjual dengan harga Rp 10.000 per biji (goreng/basah). Kios di Jalan Pemuda milik Mbak Lien menjual dengan harga Rp 8.000 per biji. Sedangkan pedagang-pedagang lumpia lain menjual dengan harga sekitar Rp 7.000 per biji.

Category: Asia  Leave a Comment

BIOKIM 48

ooAda satu cerita

Ini tentang kita

Yang slalu bersama, yang berbagi kisah

*Kau tahu kesukaanku

Kau tahu kelemahanku

# Ku bahagia bersama kamu

Canda tawa suka ataupun duka

Kau slalu warnai hari-hariku

Ku ingin kita teman selamanya

Di biokim 48

Hari-hari kita lewati

Bersama di IPB

Back to *

# Ku bahagia bersama kamu

Canda tawa suka ataupun duka

Kau slalu warnai hari-hariku

Ku ingin kita teman selamanya

Di biokim 48

 

 

 

 

Hello world!

Welcome to Student.ipb.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!